Mendikdasmen: Sekolah Terdampak Bencana Terapkan Fleksibilitas Asesmen

Mendikdasmen: Sekolah Terdampak Bencana Terapkan Fleksibilitas Asesmen

Jakarta (initogel) — Di ruang kelas yang dindingnya masih lembap, di bangku yang bergeser ke tenda darurat, anak-anak tetap datang membawa buku—meski hati mereka belum sepenuhnya pulih. Dalam situasi seperti itu, negara memilih hadir dengan empati. Abdul Mu’ti menegaskan bahwa sekolah-sekolah yang terdampak bencana diberikan fleksibilitas dalam pelaksanaan asesmen pembelajaran.

Kebijakan ini lahir dari kesadaran sederhana namun mendalam: anak-anak tidak bisa diukur dengan standar yang sama ketika hidup mereka sedang tidak sama.

Belajar di Tengah Luka

Bencana alam meninggalkan jejak yang panjang—bukan hanya pada bangunan sekolah, tetapi juga pada kondisi psikologis peserta didik dan guru. Ada anak yang kehilangan rumah, ada yang harus berpindah-pindah tempat tinggal, ada pula yang masih menyimpan trauma.

Dalam kondisi tersebut, penilaian akademik yang kaku dinilai tidak manusiawi. Fleksibilitas asesmen memberi ruang bagi sekolah untuk menyesuaikan metode, waktu, dan bentuk penilaian sesuai situasi nyata di lapangan.

“Pendidikan harus memulihkan, bukan menekan,” ujar seorang guru di daerah terdampak. “Anak-anak butuh waktu.”

Fleksibilitas yang Berpihak

Fleksibilitas asesmen berarti sekolah dapat:

  • Menyesuaikan jadwal ujian dan penilaian

  • Menggunakan asesmen formatif alih-alih tes tertulis semata

  • Mempertimbangkan kondisi psikososial siswa

  • Mengutamakan keberlanjutan belajar dibanding angka nilai

Pendekatan ini memberi kepercayaan kepada sekolah dan guru sebagai pihak yang paling memahami kondisi muridnya.

“Guru tahu kapan anak siap dinilai, dan kapan anak perlu didampingi dulu,” kata seorang pengawas sekolah.

Menjaga Hak Anak atas Pendidikan

Mendikdasmen menekankan bahwa kebijakan ini bertujuan menjaga hak anak untuk tetap belajar tanpa rasa takut dan beban berlebih. Negara, katanya, tidak boleh menambah tekanan pada situasi yang sudah berat.

Dalam konteks darurat, pendidikan tidak semata soal kurikulum, tetapi juga soal rasa aman, keberlanjutan, dan harapan.

“Sekolah harus menjadi ruang pemulihan,” ujar seorang pemerhati pendidikan. “Bukan ruang ketakutan.”

Guru di Garis Depan Kemanusiaan

Di balik kebijakan ini, ada peran besar guru. Mereka bukan hanya pengajar, tetapi juga pendengar, penenang, dan penguat. Fleksibilitas asesmen memberi guru keleluasaan menjalankan peran kemanusiaan itu tanpa terbelenggu target administratif.

Seorang guru menceritakan, ia lebih banyak mengajak murid berdiskusi dan menulis refleksi ringan ketimbang mengerjakan soal pilihan ganda. “Yang penting mereka mau datang dan merasa aman,” katanya.

Belajar Tidak Selalu di Ruang Kelas

Di beberapa daerah, proses belajar berlangsung di balai desa, rumah ibadah, atau tenda sementara. Dalam situasi ini, asesmen konvensional sering kali tidak relevan. Fleksibilitas membuka peluang bagi pembelajaran kontekstual—tentang lingkungan, kebencanaan, dan ketangguhan.

Anak-anak belajar dari pengalaman mereka sendiri, dengan pendampingan yang penuh empati.

Menata Ulang Makna Penilaian

Kebijakan ini juga mengajak publik menata ulang cara pandang terhadap penilaian. Nilai bukan satu-satunya ukuran keberhasilan belajar. Ketahanan, keberanian kembali ke sekolah, dan kemampuan bangkit adalah capaian yang tak kalah penting.

“Kadang keberhasilan terbesar adalah anak mau tersenyum dan belajar lagi,” ujar seorang konselor sekolah.

Pendidikan yang Manusiawi

Fleksibilitas asesmen di sekolah terdampak bencana adalah pesan kuat: pendidikan Indonesia berpihak pada manusia. Di saat bencana merenggut banyak hal, sekolah diharapkan menjadi jangkar—menjaga ritme hidup anak agar tidak sepenuhnya terputus.

Bagi Mendikdasmen, kebijakan ini bukan pengecualian, melainkan bentuk tanggung jawab. Bahwa di tengah puing dan ketidakpastian, anak-anak tetap berhak atas pendidikan yang adil dan penuh empati.

Karena pada akhirnya, tujuan pendidikan bukan sekadar mencetak nilai, tetapi membantu manusia tumbuh—bahkan ketika dunia di sekelilingnya runtuh.