Aceh Tenggara — Sungai yang biasanya mengalir tenang kini menjadi tumpuan harapan. Pascabanjir yang merusak kebun dan lahan pertanian, sebagian warga di Aceh Tenggara memilih bertahan dengan cara sederhana: mendulang emas di aliran sungai.
Banjir besar yang melanda sejumlah kecamatan beberapa waktu lalu meninggalkan luka mendalam. Lahan kopi, jagung, dan padi yang selama ini menjadi sumber penghidupan tertimbun lumpur, batang kayu, dan bebatuan. Di tengah ketidakpastian itu, warga beralih ke sungai—mencari butiran emas halus yang terbawa arus dari hulu.
Sungai Menjadi Sumber Nafas Baru
Sejak pagi, warga tampak menyusuri tepian sungai dengan dulang sederhana. Ada yang datang berkelompok, ada pula yang sendiri. Aktivitas ini bukan hal baru di wilayah pegunungan Aceh, namun intensitasnya meningkat setelah banjir menggerus kebun-kebun milik warga.
“Kalau kebun belum bisa ditanami, ini satu-satunya cara,” ujar seorang warga sambil mengayak pasir sungai. Hasilnya tidak menentu—kadang hanya cukup untuk membeli beras, kadang pulang dengan tangan kosong. Namun bagi mereka, mendulang emas adalah cara untuk tetap bertahan.
Dampak Bencana yang Menggerus Penghidupan
Banjir tidak hanya membawa air, tetapi juga menghentikan roda ekonomi keluarga. Tanaman rusak berarti berbulan-bulan tanpa panen. Biaya pemulihan kebun pun tidak sedikit, sementara kebutuhan sehari-hari harus terus dipenuhi.
Di kondisi seperti ini, sungai menjadi ruang alternatif. Butiran emas yang ditemukan, meski kecil, bisa dijual untuk memenuhi kebutuhan dasar. Aktivitas ini dilakukan dengan alat tradisional dan tenaga sendiri, tanpa mesin, sebagai bentuk adaptasi terhadap keterbatasan.
Antara Harapan dan Risiko
Meski memberi penghasilan sementara, mendulang emas di sungai bukan tanpa risiko. Arus sungai masih labil pascabanjir, batuan mudah bergeser, dan cuaca bisa berubah cepat. Namun keterdesakan ekonomi membuat warga tetap bertahan.
Para orang tua berharap aktivitas ini tidak berlangsung lama. Mereka ingin kembali ke kebun, ke kehidupan yang lebih pasti. “Kami cuma menunggu tanah bisa ditanami lagi,” kata seorang ibu yang ikut mendulang bersama keluarganya.
Kemanusiaan di Tengah Bencana
Kisah warga Aceh Tenggara ini mencerminkan daya lenting masyarakat di tengah bencana. Saat sistem penghidupan runtuh, mereka mencari cara bertahan dengan sumber daya yang ada di sekitar. Sungai yang meluap membawa bencana, tetapi juga menyisakan secercah peluang.
Pemerintah daerah dan pihak terkait diharapkan hadir untuk mempercepat pemulihan kebun dan menyediakan bantuan berkelanjutan. Sebab mendulang emas hanyalah jalan sementara—bukan solusi jangka panjang.
Di tepian sungai Aceh Tenggara, harapan itu terus diayak bersama pasir dan air. Warga percaya, seperti emas yang tersembunyi di dasar sungai, kehidupan yang lebih baik masih bisa ditemukan setelah bencana berlalu.
