Brussels/London/Paris/Berlin — Pemerintah Inggris, Prancis, dan Jerman menyatakan kesiapan mengambil langkah defensif untuk menghadapi ancaman dari Iran setelah serangan misil dan drone yang disebut menghantam wilayah di kawasan Teluk dan menimbulkan risiko bagi warga negara serta kepentingan mereka. Ketiga negara Eropa ini mengeluarkan pernyataan bersama yang menunjukkan kekhawatiran atas eskalasi terbaru konflik di kawasan.
Siap Ambil Tindakan Defensif
Dalam pernyataan bersama yang dirilis oleh para pemimpin tiga negara Eropa tersebut, mereka menyebut serangan Iran sebagai “reckless” dan “indiscriminate” — atau tidak bertanggung jawab dan tanpa pembedaan — terhadap target yang termasuk sekutu dan fasilitas militer di kawasan. Karena itu, mereka menegaskan siap mengambil langkah yang diperlukan untuk melindungi kepentingan nasional dan sekutu mereka guna mencegah ancaman lebih lanjut.
Salah satu poin penting dari pernyataan itu adalah kesiapan negara-negara E3 (Inggris, Prancis, Jerman) untuk bekerja sama dengan Amerika Serikat serta sekutu di kawasan dalam menghadapi ancaman tersebut. Langkah ini dinilai sebagai bentuk solidaritas strategis di tengah ancaman misil dan serangan drone yang terus berlanjut.
Inggris Setujui Penggunaan Basis Militer
Premier Inggris Keir Starmer menyatakan bahwa negaranya telah menyetujui permintaan dari Amerika Serikat untuk menggunakan basis militer Inggris sebagai bagian dari langkah defensif untuk menghadapi ancaman misil Iran. Keputusan ini disebut sebagai bagian dari upaya kolektif untuk mencegah peluncuran misil dan drone dari fasilitas yang dimiliki Iran.
Namun, pemerintahan Inggris menekankan bahwa langkah tersebut bersifat defensif, bukan ofensif terhadap negara lain di luar konteks perlindungan terhadap sekutu dan warga negaranya.
Kekhawatiran Regional yang Meningkat
Pernyataan bersama ini muncul di tengah meningkatnya kekhawatiran akan eskalasi konflik lebih luas di kawasan Timur Tengah. Para pemimpin negara Eropa juga menyerukan Iran untuk menghentikan serangan yang dianggap mengancam keselamatan militer maupun sipil dan kembali ke proses diplomatik guna meredakan ketegangan.
Pedoman yang disampaikan mencerminkan tantangan yang lebih luas: menjaga stabilitas regional dan memastikan keselamatan warga negara Eropa serta sekutunya di tengah dinamika konflik yang belum menunjukkan tanda mereda.
