Aceh–Sumatera Barat–Sumatera Utara (initogel) — Di tengah puing bangunan sekolah dan ruang kelas yang belum bisa digunakan, suara anak-anak kembali terdengar. Bukan di gedung permanen, melainkan di bawah tenda peleton berwarna hijau yang berdiri di lapangan desa. Inilah wajah pendidikan darurat pascabencana di sejumlah wilayah Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara, yang kini mendapat dukungan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
BNPB menyiapkan tenda peleton untuk memastikan proses pembelajaran tetap berjalan, meski infrastruktur pendidikan rusak akibat bencana alam. Langkah ini menjadi bagian dari upaya menjaga keberlanjutan pendidikan di tengah masa pemulihan.
Sekolah Boleh Rusak, Belajar Tidak Boleh Berhenti
Bencana datang tanpa kompromi—banjir, galodo, dan longsor merusak rumah, jalan, dan juga sekolah. Namun bagi BNPB, satu prinsip tetap dijaga: anak-anak tidak boleh kehilangan hak belajar.
Tenda peleton yang biasanya digunakan untuk keperluan darurat kini disulap menjadi ruang kelas sementara. Meja dan kursi seadanya ditata rapi, papan tulis dipasang, dan guru kembali berdiri di depan murid-muridnya.
“Anak-anak butuh rutinitas,” ujar seorang guru di wilayah terdampak. “Belajar membantu mereka merasa aman dan kembali normal.”
Belajar di Tengah Keterbatasan
Di dalam tenda, suasana belajar terasa berbeda, namun semangat tetap sama. Angin sesekali masuk dari sela-sela tenda, suara hujan masih terdengar di kejauhan, tetapi mata anak-anak tetap tertuju pada papan tulis.
Bagi banyak siswa, kehadiran tenda sekolah adalah penanda bahwa mereka tidak dilupakan. Di tengah kehilangan dan ketidakpastian, pendidikan menjadi jangkar yang menenangkan.
“Senang bisa sekolah lagi,” kata Rafi, siswa sekolah dasar. “Walaupun di tenda.”
Dukungan Psikososial Lewat Pendidikan
Selain fungsi akademik, tenda peleton juga berperan sebagai ruang pemulihan psikososial. Interaksi dengan teman sebaya dan guru membantu anak-anak memproses pengalaman bencana yang mereka alami.
BNPB menilai bahwa pendidikan darurat tidak hanya soal kurikulum, tetapi juga pemulihan mental dan emosional anak-anak terdampak bencana.
“Belajar bersama membuat mereka kembali tersenyum,” ujar relawan pendidikan.
Kolaborasi untuk Masa Depan
Penyediaan tenda peleton ini dilakukan dengan koordinasi lintas sektor—melibatkan pemerintah daerah, dinas pendidikan, relawan, dan masyarakat setempat. Tenda-tenda tersebut ditempatkan di lokasi yang aman dan mudah dijangkau oleh siswa.
Langkah ini bersifat sementara, sambil menunggu perbaikan dan pembangunan kembali sekolah permanen. Namun dampaknya nyata dan langsung dirasakan.
“Ini bukan solusi akhir, tapi solusi cepat yang sangat dibutuhkan,” ujar seorang petugas BNPB.
Harapan di Bawah Tenda
Di Aceh, Sumbar, dan Sumut, tenda-tenda peleton kini menjadi simbol ketahanan. Di bawah atap kain sederhana itu, masa depan tetap dirajut—pelan, tapi pasti.
Anak-anak belajar mengeja kembali harapan, guru mengajar dengan ketulusan, dan orang tua menyaksikan dengan rasa haru. Bencana memang merusak bangunan, tetapi tidak mampu meruntuhkan semangat untuk belajar.
Melalui tenda peleton, BNPB mengirim pesan jelas: di tengah bencana, pendidikan tetap berdiri—dan dari sanalah pemulihan dimulai.
