Polewali Mandar (ANTARA) – Aktivitas Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kecamatan Binuang, Kabupaten Polewali Mandar (Polman), Sulawesi Barat, ditutup sementara menyusul insiden dugaan keracunan makanan yang dialami 16 siswa sekolah dasar setelah mengonsumsi Makanan Bergizi Gratis (MBG).
Penutupan sementara tersebut dilakukan sebagai langkah pengamanan dan evaluasi, sembari menunggu hasil pemeriksaan menyeluruh dari pihak terkait. Insiden ini menjadi perhatian serius, tidak hanya bagi orang tua siswa, tetapi juga bagi masyarakat luas yang menaruh harapan besar pada program pemenuhan gizi anak sekolah.
Kronologi: Dari Jam Makan ke Ruang Perawatan
Peristiwa bermula pada jam makan siang di sekolah. Sejumlah siswa menerima paket MBG seperti hari-hari sebelumnya. Tak lama setelah makanan dikonsumsi, beberapa anak mulai mengeluhkan gejala tidak nyaman—mual, pusing, dan sakit perut.
Guru dan pihak sekolah segera bertindak. Siswa yang menunjukkan gejala dibawa ke fasilitas kesehatan terdekat untuk mendapatkan penanganan. Hingga sore hari, tercatat 16 siswa harus menjalani observasi medis. Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini, dan kondisi para siswa dilaporkan berangsur membaik.
Namun bagi orang tua, jam-jam menunggu di puskesmas menjadi momen yang penuh kecemasan.
“Anak kami berangkat sekolah dalam keadaan sehat. Kami tidak pernah membayangkan pulang dalam kondisi sakit seperti itu,” ujar salah satu orang tua siswa dengan suara tertahan.
Langkah Cepat: Penutupan dan Investigasi
Sebagai respons atas kejadian tersebut, operasional SPPG Binuang dihentikan sementara. Penutupan ini dimaksudkan untuk mencegah risiko lanjutan sekaligus memberi ruang bagi investigasi menyeluruh terhadap proses pengolahan, penyimpanan, dan distribusi makanan.
Pemeriksaan dilakukan terhadap sampel makanan, peralatan dapur, serta standar kebersihan yang diterapkan. Aparat kesehatan juga menelusuri kemungkinan adanya kontaminasi bahan pangan atau kesalahan prosedur.
Dalam konteks keamanan publik, langkah ini dipandang penting. Program yang menyasar anak-anak—kelompok paling rentan—harus berjalan dengan prinsip kehati-hatian maksimal.
MBG dan Harapan Besar Orang Tua
Program Makanan Bergizi Gratis digulirkan sebagai upaya meningkatkan kualitas gizi anak sekolah, mencegah stunting, dan mendukung tumbuh kembang generasi muda. Di banyak daerah, program ini disambut antusias oleh orang tua, terutama dari keluarga yang bergantung pada bantuan negara untuk pemenuhan gizi harian anak.
Insiden di Polman menjadi pengingat bahwa keberhasilan program tidak hanya diukur dari niat baik dan cakupan, tetapi juga dari ketepatan pelaksanaan di lapangan.
“Programnya bagus, tapi pelaksanaannya harus benar-benar aman. Anak-anak tidak boleh jadi korban,” kata seorang warga Binuang.
Perspektif Hukum dan Tanggung Jawab
Dari sisi hukum, kasus dugaan keracunan makanan membuka ruang evaluasi terhadap tanggung jawab penyelenggara layanan publik. Standar keamanan pangan bukan sekadar prosedur administratif, melainkan kewajiban hukum untuk melindungi keselamatan penerima manfaat.
Jika ditemukan kelalaian, sanksi administratif hingga pidana dapat menjadi bagian dari proses lanjutan. Namun, di atas semua itu, pemulihan kepercayaan publik menjadi pekerjaan rumah yang tidak ringan.
Pendampingan Psikologis dan Kemanusiaan
Selain aspek medis, kejadian ini juga menyisakan dampak psikologis. Anak-anak yang mengalami keracunan bisa menyimpan trauma, sementara orang tua dihantui kekhawatiran saat anak kembali menerima makanan dari sekolah.
Pendampingan, komunikasi terbuka, dan transparansi hasil pemeriksaan menjadi kunci agar rasa aman dapat pulih. Bagi banyak keluarga, jaminan bahwa kejadian serupa tidak terulang jauh lebih penting daripada sekadar pernyataan resmi.
Menunggu Kepastian
Hingga kini, hasil investigasi masih ditunggu. SPPG Binuang belum kembali beroperasi, dan distribusi MBG dihentikan sementara di wilayah terdampak.
Insiden ini menjadi pelajaran penting bahwa program kemanusiaan, sebaik apa pun tujuannya, harus dijalankan dengan disiplin tinggi. Ketika menyangkut anak-anak, tidak ada ruang untuk kompromi.
Di ruang-ruang kelas Polman yang kembali sunyi saat jam makan, harapan sederhana itu menggema: agar sekolah kembali menjadi tempat yang aman—bukan hanya untuk belajar, tetapi juga untuk bertumbuh dengan sehat dan terlindungi.
